IBADAH QURBAN

Standard

 

Qurban meniko saking boso arab nggih meniko qorub ingkang nggadahi artos dekat, dados qurban meniko maksudipun ibadah damel mendekatkan diri kepada Allah

Wonten ing al-Qur’an, surat al-Kautsar ayat 2 Qurban dipun kenal dengan  istilah NAHR ingkang artosipun sembelihan, maksudipun nyembelih binatang ternak, kados Domba/kambing, sapi/kerbau dan unta.

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan Ulama mengenai hukumnya berqurban;nggih meniko:

1.    Menurut imam Abu Hanifah

Qurban itu wajib dilakukan satu kali dalam setahun bagi orang yang mampu, bernazar, atau orang yang sudah menyediakan/membeli binatang qurban..

2.    Menurut jumhur Ulama ( Madzhab Maliki, Syafi’i dan Hambali )

Qurban itu sunnah mu’akkad ( Sunnah yang dikuatkan ) dan makruh bagi orang yang mampu tetapi tidak melaksanakan qurban. Kendati demikian, Madzhab Maliki menyebutkan bahwa hukum sunnah itu hanya berlaku bagi orang selain jama’ah haji, sedangkan bagi jema’ah haji wajib menyembelih qurban di Mina. Dan Imam Abu Hanifah justru mentidak-sahkan qurban bagi jema’ah haji, karena mereka dalam keadaan bepergian (musafir).

SYARAT ORANG YANG BERQURBAN

Para fuqaha utawi ahli fiqh sepakat, bilih syarat-syarat bagi tiyang ingkang melaksanakan qurban meniko: Muslim, merdeka, baligh, berakal, penduduk tetap suatu wilayah dan mampu. Yang dimaksud mampu, menurut madzhab Hanafi berarti memiliki senisab zakat di luar kebutuhan sandang, pangan dan papan keluarganya. Sedangkan menurut madzhab Maliki berarti memiliki harta lebih dari kebutuhan primer dalam tahun itu. Dan madzhab Syafi’i mampu berarti ia memiliki harta seharga binatang qurban di luar kebutuhannya dan kebutuhan orang yang berada di bawah tanggung jawabnya. Bagi madzhab Hambali menafsirkan kemampuan itu dengan kemungkinan mendapatkan harta seharga binatang qurban, sekalipun dalam bentuk utang, tetapi yang bersangkutan sanggup membayarnya.

Syarat sah melakukan qurban adalah sebagai berikut :

1.    Binatang qurban hendaknya tidak cacat, seperti rusak matanya, sakit, pincang, kurus yang tidak berdaya.

2.    Binatang qurban telah mencapai umur tertentu.. Bagi sapi atau kerbau berlaku untuk 7 orang berdasarkan riwayat Jabir bin Abdullah yang mengatakan, bahwa Kami telah menyembelih qurban bersama Rasulullah saw. pada tahun Hudaibiyah, satu ekot unta untuk tujuh orang dan satu ekor sapi untuk tujuh orang. Sedangkan satu ekor domba/kambing untuk satu orang diqiaskan kepada denda (dam) meninggalkan wajib haji.

3.    Qurban dilakukan pada waktu yang telah ditentukan; Yaitu mulai terbit fajar, sebaiknya setelah melaksanakan shalat idhul adha tanggal 10 sampai sebelum terbenam matahari tanggal 13 Dzulhijjah.

HAL-HAL YANG DISUNNAHKAN

1.    Memilih binatang qurban yang gemuk

2.    Mengikat binatang qurban beberapa hari menjelang idhul Adha sebagai syi’ar.

3.    Tidak memotong kuku dan bulu binatang qurban sejak awal bulan Dzulhijjah.

4.    Membaca basmallaah ketika menyembelih hewan qurban.

5.    Membaca shalawat atas nabi saw. dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah swt.

6.    Membaca takbir.

7.    Berdo’a agar diterima qurbannya, dengan do’a misalnya

8.    Binatang yang akan disembelih dihadapkan ke kiblat.

9.    Melakukan penyembelihan qurbannya dengan tangannya sendiri bagi pria, sedangkan bagi wanita mewakilkan kepada pria.

10.    Yang berkurban menghadiri penyembelihan kurbannya.

11.    Menggunakan alat yang tajam.

MEMAKAN DAGING QURBAN

Madzhab Hanafi dan Syafi’i mewajibkan pembagian daging qurban nazar dan haram bagi orang yang bernazar memakannya. Karena hukum qurban nazar sama dengan nazar lainnya, tidak boleh diambil manfaat oleh yang bernazar. Tetapi madzhab Maliki dan Hambali membolehkan memakan sedikit saja dari daging qurbannya. Karena qurban nazar sama dengan qurban biasa, yang membolehkan yang berqurban memakan dagingnya.

Adapun mengenai qurban biasa, sepakat para fuqaha, bahwa daging qurban diberikan kepada; orang yang berqurban,  kaum kerabat (walaupun orang kaya) dan untuk orang miskin.

LAIN-LAIN

Mengenai qurban bagi orang yang sudah meninggal, menurut Imam asy-Syafi’i tidak boleh, kecuali ada wasiat. Sedangkan menurut Madzhab Maliki makruh hukumnya kalau tidak ada wasiat. Dan menurut madzhab Hanafi dan Hambali tidak ada halangan untuk berqurban bagi orang yang sudah meninggal, sekalipun tidak ada wasiat, karena orang yang telah meninggal lebih mengharap bantuan berupa do’a dan sedekah dari saudaranya yang  masih hidup. Rasulullah saw. sendiri pernah meletakkan pelepah-pelepah kurma basah di atas kuburan orang yang meninggal dunia dan menyatakan, bahwa hal itu memberi manfaat kepadanya (H.R.Bukhari dan Muslim)

Akhiripun, monggo, damel tiyang ingkang sampun mampu, sareng-sreng nglaksanakake ibadah qurban, mugi-mugi Allah nggampilake ibadah meniko damel kulo lan penjenengan sami.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s